Loading

Pangeran Syarif






Jatuhnya Jayakarta ke tangan Kompeni Belanda pada tahun 1619 membuat banyak ulama marah. Mereka menjauhi keramaian kota dan pergi berbondong-bondong ke tempat yang lebih udik. Mereka melakukan persiapan, siapa tahu suatu saat dapat melakukan pembalasan untuk menguasai kota Jayakarta kembali. Walaupun kenyataannya sulit, mereka tidak kenal putus asa. Mereka terpaksa hidup di tepi-tepi hutan, sedangkan anak dan istri ditinggalkan beberapa saat. Hanya pada saat tertentu mereka berkumpul, sesudah itu berpisah kembali. Karena keadaan yang terus menekan, lama-kelamaan merepotkan juga kalau keluarga ditinggalkan. Mau tidak mau keluarga harus diajak. Salah seorang dari para ulama itu adalah Pangeran Syarif. Selain istri, ikut juga seorang pembantu lelakinya yang masih muda.


Kondisi kekuatan Kompeni Belanda dengan bentengnya yang baru harus diperhitungkan masak-masak. Oleh karena itu, diperlukan waktu cukup lama untuk mempersiapkan penyerangan. Hal yang lebih mendesak dan harus ditanggulangi adalah keamanan sehari-hari. Hampir setiap hari terjadi perampasan dan perampokan. Rakyat kecil ketakutan. Mereka tidak berani berjalan sendiri di jalan-jalan yang sepi, lebih-lebin di malam hari. Para perampok memilih rumah yang dianggap menyimpan banyak harta. Mereka menaklukkan pemiliknya. Syukur tidak dibunuh. Akan tetapi, sudah pasti barang-barang mereka dijarah habis. Setelah itu keadaan sepi kembali, membuat bulu kuduk meremang.


Para perampok bukan saja membawa golok-golok tajam untuk mendongkel daun nipah penutup rumah, tetapi yang lebih mengerikan adalah saat mereka menggunakan kesunyian malam untuk membuat galian panjang dari luar rumah. Pemilik rumah akan kaget keesokan harinya karena seluruh harta yang telah mereka kumpulkan dengan susah payah, lenyap begitu saja dibawa kabur perampok-perampok itu.


Rakyat kecil tetap rakyat kecil. Mereka hidup dari hasil pertanian. Ada juga bekas nelayan atau pemilik tambak ikan. Di tempat baru mereka membuat rumah sederhana dengan sisa-sisa hartanya.


Pada suatu malam mereka mendengar teriakan dan luar rumah. Teriakan para perampok kasar yang menantang agar keluar. Tentu saja tantangan itu mereka hindari sebab tidak mungkin menang. Lebih balk menurut saja apa kata perampok-perampok itu. Mereka tidak mau tubuh mereka diseret dan disiksa seperti korban yang lain. Biarlah sisa-sisa harta itu dibawa pergi, yang penting nyawa masih ada. Begitu juga anak istri selamat dan tidak dianiaya. Rumah para tetangga jauh letaknya dan mereka tidak mungkin memberikan pertolongan.


Keadaan tidak aman itu diketahul benar oleh Pangeran Syarif. Suatu saat memang terpikir olehnya untuk bertindak tegas menumpas perampok-perampok itu. Untung, dia masih berpiklr panjang. Kepada istri dan pembantunya dia menekankan untuk bersikap lebih tenang.


“Sekaii-kali tidak perlu takut,” katanya, “tenanglah. Harta kita ini juga harta Tuhan. Jadi, tidak perlu dirisaukan.”


Pekerjaan Pangeran Syarif adalah mengajar. Murid-muridnya diajar menulis huruf Arab dan dilatih membaca serta mempelajari Al-Qur’an. Pangeran Syarif menjelaskan arti dan tafsirnya. Sangat lugs pandangannya. Dalam tempo singkat makin banyak muridnya. Itu pula yang menyebabkan orang-orang dewasa, bahkan lanjut usia ikut juga dalam pengajian Pangeran Syarif. Karena makin populer, Pangeran Syarif sering dijemput untuk mendatangi desa-desa terpencil. Di hadapan orang banyak, Pangeran Syarif memberikan penjelasan secara langsung. Bahasanya sederhana dan ada humornya. Orang makin senang. Mereka tertawa-tawa. Pangeran Syarif juga memasukkan ajaran-ajaran yang baik, mulai dari mengasuh anak sampai meningkatkan amal dalam kehidupan.


Istri Pangeran Syarif sudah biasa ditinggal sendiri di rumah. Banyak yang dikerjakannya selama suaminya berdakwah dari pagi hingga sore hari. Malam cepat berlalu dan pagi kembali. Siangnya Pangeran Syarif pulang, tetapi tidak lama pergi lagi memenuhi jemputan.


Pada suatu hari istri Pangeran Syarif merasa takut sekali tinggal sendiri di rumah sebab saat itu dia sedang hamil muda. Ketika malam tiba, suasana menjadi agak lain. Entah karena apa pembantunya sudah tidur dengan pulas di balai-balai depan. Sementara itu, di luar segerombolan penjahat sudah lama mengawasi rumah Pangeran Syarif. Mereka tahu kalau yang ada di rumah hanya istri dan pembantunya. Mereka lalu sating memberi isyarat. Anggota penjahat yang tersebar menangkap isyarat itu dan mereka bergerak ke rumah Pangeran Syarif.


Di samping rumah Pangeran Syarif jelas terlihat dua ekor sapi gemuk di dalam kandang. Di leher istri Pangeran Syarif juga terlihat kalung emas yang mahal. Anehnya, pada penglihatan para penjahat, sapi-sapi gemuk itu seperti berada di seberang lautan sehingga mereka harus berenang dengan susah payah untuk mencapainya. Kaki dan tangan mereka bergerak, tetapi tidak sampai juga. Mereka terengah-engah. Akhirnya, malam pun berlalu dengan cepat. Siangnya Pangeran Syarif datang.


“Mengapa kalian merangkak-rangkak di rumput pekarangan rumahku?” tanya Pangeran Syarif. Mendengar pertanyaan itu, para penjahat seperti radar dari pingsannya. Mereka gelagapan, malu. Akhirnya, mereka berterus terang.
“Ampunilah kami, Wan Haji. Kami memang telah berniat jahat. Kami amat menyesal. Kami berjanji tidak akan berbuat jahat lagi,” kata kepala penjahat.
“Jangan minta ampun kepadaku,” jawab Pangeran Syarif, “mintalah ampun kepada Allah. Allah-lah tempat kalian memohon segalanya, termasuk ampun kalian. Itu pun kalau kalian bersungguh-sungguh.”
“Kami bersungguh-sungguh, Wan Haji. Kami bertobat.”


Karena para penjahat itu bertobat, Pangeran Syarif memberikan bimbingan, “Ikutilah ucapanku!” Pangeran Syarif segera membacakan kalimat syahadat perlahan-lahan dan kepala penjahat beserta gerombolannya menirukan. Sejak itu mereka benarbenar bertobat dan menjadi pengikut Pangeran Syarif yang setia.


Pada suatu hari Pangeran Syarif menjelajah desa Bendungan, dekat Pasar Minggu. Hujan turun rintik-rintik. Dia meneruskan perjalanannya sampai ke tepi Sungai Ciliwung. Untuk melindungi kepalanya dari guyuran hujan, dia berkerudung kain. Tidak disangka-sangka dari arah berlawanan dia melihat rakit. Setelah ditanya, pemilik rakit mengatakan akan menuju ke kota Betawi yang makin kuat dikuasai serdadu Kompeni.


Setelah itu, dengan cepat Pangeran Syarif menyelinap ke jalan setapak di sebelah semak-semak dan membiarkan rakit itu berlalu. Dia berbuat begitu agar tetap tidak dikenal orang, terlebih bagi mereka yang akan pergi ke kota Betawi. Siapa tahu mereka lapor kepada musuh. Kalau sudah begitu biasanya serdadu-serdadu Kompeni segera datang karena para ulama waktu itu dianggap pengikut setia Pangeran Jayakarta. Siapa saja yang berjubah putih dianggap prajurit Pangeran Jayakarta.


Tukang rakit itu tahu betul kalau Pangeran Syarif menyelinap ke semak-semak di tikungan sungai. Pada penglihatannya Pangeran Syarif membelok melewati terowongan di pinggir Sungai Ciliwung. Rakit itu mengikuti Pangeran Syarif memasuki terowongan sempit dan gelap. Tidak lama kemudian Pangeran Syarif sudah muncul di pinggir Sungai Sunter dekat Pondok Gede. Tukang rakit masih mengikuti terus. Setelah sadar dia heran sekali, ketika dia bermaksud balik memasuki terowongan sempit, terowongan itu sudah tidak ada lagi.


“Ampunilah saya, Wan Haji,” tukang rakit itu menyembah-nyembah, “saya hanya tertarik kepada Wan Haji. Saya tidak bermaksud jelek. Saya tidak bermaksud melapor kepada serdadu-serdadu Kompeni. Percayalah!”


Seperti kepada kepala perampok tempo hari yang bermaksud jahat, kepada tukang rakit itu Pangeran Syarif juga menjawab penuh wibawa, “Jangan minta ampun kepadaku. Allah-lah tempat kamu memohon ampun. Allah-lah tempat kamu minta segalanya. Kamu hares memohon ampun kepada-Nya”


Tukang rakit itu lalu meniru apa yang diucapkan Pangeran Syarif. Dia menjadi pengikut Pangeran Syarif yang setia Pula. Terowongan yang bisa tembus ke Sungai Ciliwung itu kemudian dikenal dengan nama Lubang Buaya. Di daerah ini Pangeran Syarif bergerilya terus melawan serdadu-serdadu Kompeni. Para pengikutnya menyebar ke seluruh wilayah Betawi.


Sumber : dongeng.org

L.A. Noire adventure





Kembali lagi kawan jalan-mengejar-mimpi.blogspot.com akan menshare beberapa game terbaiknya, salah satunya L.A Noire. Game tentang petualangan jagoan emang nggak pernah ngebosenin, buktinya dari yang namanya Grand Teft Auto,Point Blank,Tomb Raider,Mafia Wars,Counter Strike, dan sejenisnya selalu jadi game favorit para gamer di Indonesia.Dan di pertengahan 2011, muncul sebuah game baru bernama L.A. Noire.

Mirip dengan game petualangan lainnya, LA. Noire berkisah tentang seorang jagoan bernama Cole Phelps, seorang veteran perang dunia II yang alih profesi menjadi seorang polisi detektif di kota Los Angeles yang penuh dengan korupsi,narkoba, dan gangster. Memainkan L.A Noire serasa kita dibawa pada masa retro tahun 1940an-1950an dimana persaingan antar gangster begitu keras. Seorang gamer yang berperan sebagai detektif Cole Phelps bakal disuruh mencari petunjuk di TKP (tempat kejadian perkara), menginterogasi saksi dan tersangka sampai menemukan bukti kuat untuk menjerat seorang penjahat masuk ke dalam bui.

Dalam game L.A.Noire diperkenalkan sebuah fitur bernama MotionScan. Fitur ini akan berfungsi untuk membaca animasi ekspresi wajah mirip dalam kehidupan nyata. Jadi dengan menggunakan fitur ini gamer bisa membaca berbagai ekspresi muka para penjahat dalam usaha penyelidikan mengungkap sebuah kasus.Jadi diperlukan banget ketelitian dan kecerdasan strategi buat memecahkan setiap kasusnya.

L.A.Noire sendiri merupakan game bikinan terbaru dari 'Team Bondi' yaitu sebuah game developer asal Austraila yang melakukan kerjasama dengan publisher kenamaan Rockstar Games.Tapi jangan sangka game ini mirip banget dengan game lain kayak Grand Teft Auto (GTA IV). Menurut pembuatnya LA. Noire sangat beda jauh, di game ini tidak ada yang namanya kebebasan total. Misi detektif kebanyakan berusaha memecahkan kasus ketimbang keliling kota Los Angeles mengejar penjahat. Meskipun adegan tembak-tembakanya masih sama persis kayak GTA IV.

Fakta tentang L.A. Noire
- L.A.Noire sempat batal rilis beberapa kali setelah direncanakan tahun 2007
- Awalnya L.A.Noire eksklusif buat PS3, tapi pihak developer mengkonfirmasi kalau tersedia juga versi XBox 360.
- L.A.Noire punya skala audio yang masif, dan lebih dari 20 jam voice-acting.
- Trailer L.A.Noire “Serial Killer” awalnya direncanakan rilis tanggal 24 Januari 2011, tapi keluar dua hari sebelumnya.
- Rockstar game mengatakan, L.A. Noire bukanlah game sandbox, tapi open-world game
- Developer diary yang rilis 16 Desember 2010 menjelaskan tentang MotionScan technology.
(kaskus.us)


SCREENSHOT








System requirements:
--------------------------------
OS : Windows XP/ Vista/ 7
Processor : Intel core 2 Duo @ 2.2 Ghz / AMD Athlon 64 X2 4800+
Memory : 2 Gb
Hard Drive : 16 Gb free
Video Memory : 512 Mb
Video Card : nVidia GeForce 8800 / ATI Radeon HD 3850
Sound Card : DirectX Compatible
DirectX : 9.0c
 -->Enjoy The Game<--




 (LINK by MEDIAFIRE)
FILE 13,7 GB
Download Game :
Link1 | DOWNLOAD
or
Link2 | DOWNLOAD

Link2: password if need:  www.gamehousevn.com or awesome

Pulau Kakak-Beradik







Karena dianggap sudah cukup umur, Mina dan Lina dipanggil ibu mereka untuk membicarakan rencana perkawinan kakak-beradik itu.

“Kalian sudah cukup dewasa. Sudah waktunya kalian membangun rumah tangga,” kata sang ibu.

“Kami mau dikawinkan dengan satu syarat,” kata Mina dan Lina.

“Apa syaratnya?”

“Karena kami kakak-beradik, suami kami juga harus kakak-beradik.”

Sang ibu tahu, itu adalah cara mereka menolak perkawinan. Menurut Mina dan Lina, perkawinan membuat orang kehilangan segala sesuatu yang mereka cintai: orang tua, teman, sanak-saudara, bahkan kampung halaman.

Demikianlah, karena tak ada laki-laki kakak-beradik yang menyunting Mina dan Lina, mereka tak kunjung menikah. Waktu pun terus berlalu. Ibu Mina dan Lina meninggal karena usia yang semakin tua. Sepeninggal ibunya, gadis kakak-beradik itu tinggal bersama dengan paman mereka.

Pada suatu hari, sekelompok bajak laut menculik Lina. Pemimpin bajak laut itu ingin memperistri Lina. Lina menolak dan meronta sekuat tenaga.

Penculikan itu diketahui oleh Mina. Karena tak ingin terpisah dari adiknya, Mina bertekad menyusul Lina. Dengan perahu yang lebih kecil, Mina mengejar perahu penculik Lina. Teriakan orang sekampung tak dihiraukannya. Mina terus mengejar sampai tubuhnya tak kelihatan lagi.

Tiba-tiba mendung datang. Tak lama kemudian hujan pun turun. Halilintar menggelegar, petir menyambar-nyambar. Orang-orang berlarian ke rumah masing-masing. Ombak bergulung-gulung. Menelan perahu penculik Lina, menelan Lina, menelan Mina, menelan semuanya.

Ketika keadaan kembali normal, orang-orang dikejutkan oleh dua pulau yang tiba-tiba muncul di kejauhan. Mereka yakin, pulau itu adalah penjelmaan Mina dan Lina. Kedua pulau itu diberi nama Pulau Sekijang Bendera dan Sekijang Pelepah, tetapi kebanyakan orang menyebutnya Pulau Kakak-Beradik.

Catatan: Dari yang saya peroleh kedua pulau tersebut dikenal dengan sebutan The Sisters, dan bernama Pulau Subar Laut dan Pulau Subar Darat.

Sumber : ASEAN Folk Literature

Copyright © jalan-mengejar-mimpi.blogspot.com. Diberdayakan oleh Blogger.
DAFTAR ISI

Popular(s) Post

DAFTAR ISI

About Me

Foto Saya
LIKA-LIKU_LAKI-LAKI
I'm .. Just ordinary people who live based on reality that there is many social disorder... i want to learn about humanity on reality
Lihat profil lengkapku

Guest Book

Kode iklan 120 x 600 disini